Keutamaan Dua Rakaat Sebelum Subuh (Lebih baik dari dunia dan seisinya)

Khutbah Pertama

الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.

Amma ba’du…

Jama’ah Jumat yang dimuliakan Allah,

Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena hanya orang-orang bertakwalah yang dijanjikan keberuntungan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Pada kesempatan yang mulia ini, khatib mengajak diri sendiri dan seluruh jamaah sekalian untuk merenungi keutamaan satu amal ibadah yang ringan dikerjakan namun sangat agung pahalanya. Ibadah itu adalah dua rakaat shalat sunnah sebelum Subuh.

Nabi kita yang mulia ﷺ bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Dua rakaat sebelum Subuh lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.”
(HR. Muslim no. 725)

Bayangkan… dunia dengan segala kekayaannya, kendaraan mewah, rumah-rumah megah, jabatan, dan popularitas, semuanya tidak bisa menandingi nilai dua rakaat ringan ini. Sebuah nilai ibadah yang luar biasa besar, namun sering kita remehkan atau tinggalkan karena kantuk atau malas bangun pagi.

Padahal, Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah meninggalkan dua rakaat ini, bahkan ketika dalam perjalanan jauh (safar), beliau tetap melaksanakannya. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

لم يكن النبي صلى الله عليه وسلم على شيء من النوافل أشد تعاهدا منه على ركعتي الفجر
“Nabi ﷺ tidak pernah menjaga satu shalat sunnah seperti beliau menjaga dua rakaat sebelum Subuh.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwa dua rakaat ini bukan sembarang shalat sunnah biasa, melainkan ibadah yang sangat ditekankan.

Jamaah yang dirahmati Allah…

Mengapa dua rakaat ini begitu agung di sisi Allah?

Karena ia dikerjakan pada waktu paling istimewa, yaitu di ujung malam menuju Subuh, saat doa-doa dikabulkan dan rahmat Allah terbuka luas.

Karena ia menjadi pembuka hari seorang Muslim, yang mengawali harinya dengan dzikir, sujud, dan tunduk kepada Rabb-nya. Seorang yang memulai hari dengan dua rakaat ini, insyaAllah akan Allah berkahi seluruh aktivitasnya hari itu.

Khutbah Kedua

الحمد لله، الحمد لله على نعمه وفضله، والشكر له على توفيقه وهدايته، وأشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، أما بعد…

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Banyak di antara kita berlomba-lomba mengejar dunia, bangun pagi demi pekerjaan, mengejar rezeki, bahkan rela berangkat sebelum Subuh untuk urusan bisnis dan karier. Tapi anehnya, kita lalai untuk bangun hanya untuk dua rakaat ringan yang lebih baik dari seluruh harta dunia.

Padahal Allah menjanjikan, sebagaimana disebut dalam hadits qudsi:

وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
“Hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya.”
(HR. Bukhari)

Lihatlah bagaimana ibadah sunnah seperti dua rakaat ini bisa menjadikan kita kekasih Allah.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Bangun sebelum Subuh memang berat. Tapi justru karena berat itulah Allah memberikan pahala yang besar. Allah ingin melihat siapa hamba-Nya yang benar-benar cinta kepada-Nya. Siapa yang sanggup meninggalkan ranjang hangatnya, mengalahkan kantuknya, demi sujud kepada Allah walau hanya dua rakaat.

Inilah ciri hamba yang dicintai Allah:

  • Ia mengawali harinya dengan ibadah

  • Ia menjaga dua rakaat sunnah sebelum Subuh

  • Ia berdoa dan berdzikir saat orang lain masih tertidur

Jangan biarkan dunia merampas waktu paling mulia kita.
Jangan remehkan dua rakaat yang bisa menjadi penentu kebahagiaan kita di dunia dan akhirat.

Penutup

Jama’ah yang dirahmati Allah…

Mulai hari ini, mari kita berkomitmen untuk:

  • Tidur lebih awal agar mudah bangun Subuh

  • Menyiapkan alarm dan niat kuat

  • Menjaga dua rakaat sebelum Subuh setiap hari, tanpa putus

Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk menjaga amalan ini dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang lebih mencintai akhirat daripada dunia.

اللهم اجعلنا من الذين يستيقظون لصلاة الفجر، ومن الذين يحافظون على السنن، واجعلنا من الذين يحبهم الله ويغفر لهم. آمين.

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

Kunci Menjadi Hamba yang Mendapat Petunjuk – Kajian Al-Baqarah Ayat 1-5:

Al-Qur’an adalah kitab petunjuk yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Di awal Surah Al-Baqarah, Allah langsung menyampaikan siapa saja yang benar-benar bisa mendapat petunjuk dari kitab ini. Mari kita tadabburi lima ayat pertama dari surah yang paling panjang dalam Al-Qur’an ini. Ayat-ayat ini adalah fondasi yang menjelaskan siapa hamba-hamba yang akan sukses dunia dan akhirat.

🕌 Ayat 1: Alif Laam Miim

“Alif Laam Miim.”

Ini adalah salah satu dari huruf-huruf muqaththa’ah, yaitu huruf-huruf yang hanya Allah yang mengetahui maknanya secara pasti. Dalam Al-Qur’an, ada beberapa surah yang dimulai dengan huruf seperti ini, dan para ulama berpendapat bahwa huruf ini adalah isyarat kebesaran Allah, dan tantangan bagi manusia. Meskipun huruf-huruf ini adalah bagian dari bahasa Arab yang dikenal, namun tidak ada satu pun manusia yang mampu menciptakan satu surah pun seperti Al-Qur’an, meskipun mereka tahu huruf-hurufnya.

Pelajaran:
Kita diingatkan bahwa akal manusia memiliki batas. Ada wilayah ilmu yang hanya Allah kuasai. Maka seorang mukmin harus rendah hati di hadapan ilmu Allah dan tidak sombong dalam mencari kebenaran.

📘 Ayat 2: Al-Qur’an: Kitab Tanpa Keraguan

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”

Al-Qur’an ditegaskan sebagai kitab yang tidak mengandung keraguan sedikit pun. Kebenarannya mutlak. Ia bukan kitab fiksi, bukan karya manusia, bukan karangan Nabi Muhammad, tapi wahyu langsung dari Allah SWT.

Namun, meskipun petunjuk ini tersedia untuk semua manusia, tidak semua orang bisa mendapat manfaatnya. Hanya orang-orang yang bertakwa yang akan menjadikannya sebagai petunjuk.

Siapa orang yang bertakwa? Jawabannya ada pada ayat-ayat berikutnya.

🙏 Ayat 3: Tiga Ciri Orang Bertakwa

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

Allah langsung menyebutkan tiga sifat utama dari orang bertakwa:

  1. Iman kepada yang ghaib
    Mereka percaya kepada hal-hal yang tidak bisa dilihat: Allah, malaikat, hari kiamat, surga, neraka, takdir, dan lain-lain.

    Pelajaran: Iman bukan hanya percaya pada yang tampak. Seorang mukmin harus percaya penuh pada janji dan ancaman Allah meskipun belum terlihat.

  2. Mendirikan salat
    Salat bukan sekadar dilakukan, tapi didirikan dengan sempurna. Artinya, dilakukan dengan kekhusyukan, konsisten, dan tepat waktu.

    Pelajaran: Salat adalah tiang agama. Ia menjadi indikator utama hubungan kita dengan Allah.

  3. Menginfakkan sebagian rezeki
    Orang bertakwa sadar bahwa rezeki mereka adalah titipan Allah, dan sebagian dari itu harus dikembalikan kepada sesama, terutama yang membutuhkan.

    Pelajaran: Infak membersihkan hati dari cinta dunia dan menumbuhkan rasa peduli.

📚 Ayat 4: Beriman kepada Wahyu dan Akhirat

“Dan mereka yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan yang diturunkan sebelum kamu, serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat.”

Allah memperluas ciri orang bertakwa:

  1. Beriman kepada semua wahyu
    Mereka tidak hanya percaya kepada Al-Qur’an, tetapi juga kepada kitab-kitab sebelumnya seperti Taurat, Zabur, dan Injil (yang asli, sebelum mengalami perubahan).

    Pelajaran: Islam mengajarkan toleransi dan menghargai wahyu sebelumnya. Seorang mukmin tidak bersikap eksklusif.

  2. Yakin akan akhirat
    Keyakinan kepada kehidupan setelah mati menjadi motivasi utama untuk hidup lurus.

    Pelajaran: Keimanan pada akhirat mendorong kita untuk tidak semata-mata mengejar dunia.

🌟 Ayat 5: Merekalah yang Beruntung

“Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Inilah puncaknya.

Orang-orang yang memiliki sifat-sifat tadi, merekalah yang:

  • Mendapat hidayah langsung dari Allah

  • Diakui sebagai orang-orang yang beruntung (al-muflihun)

Pelajaran penting:
Hidayah tidak diberikan kepada semua orang. Bahkan, banyak yang membaca Al-Qur’an tapi tidak mendapat hidayah. Hanya mereka yang tunduk, iman, salat, infak, percaya wahyu, dan yakin pada akhirat yang akan mendapatkannya.

💡 Kesimpulan Tadabbur

Lima ayat pertama dari Surah Al-Baqarah adalah filter awal yang Allah berikan bagi siapa saja yang ingin mendapatkan petunjuk dari Al-Qur’an. Mereka bukan hanya membaca Al-Qur’an, tapi memenuhi syarat-syarat keimanan dan amal:

  • Percaya pada yang ghaib

  • Menegakkan salat

  • Rajin bersedekah

  • Beriman kepada seluruh wahyu

  • Meyakini akhirat

Jika kita ingin menjadi hamba yang sukses, maka kita harus bercermin pada ayat ini. Bukan hanya sekadar mengaku Muslim, tapi benar-benar menjadi pribadi bertakwa yang layak menerima petunjuk dari Allah.

📝 Renungan Pribadi

Mari kita bertanya pada diri sendiri:

  • Sudahkah aku benar-benar percaya kepada yang ghaib?

  • Apakah salatku sudah khusyuk dan terjaga waktunya?

  • Sudahkah aku menyisihkan rezekiku untuk yang membutuhkan?

  • Apakah aku membaca Al-Qur’an dengan hati yang tunduk?

  • Apakah aku yakin akhirat lebih nyata daripada dunia?

Jika belum, inilah saatnya memperbaiki.

📌 Penutup

Surah Al-Baqarah dimulai dengan standar tinggi bagi seorang hamba. Tetapi inilah jalan menuju keberuntungan sejati. Mari kita jadikan lima ayat ini sebagai cermin harian, sebagai bekal memperbaiki diri dalam setiap langkah.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertakwa dan mendapat petunjuk. Aamiin.

Kajian Surat Yasin ayat 20

Surat Yasin ayat 20 adalah:
“Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas, dia berkata: “Wahai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu.” (QS Yasin: 20)
Tafsir Ayat
Ayat ini menceritakan tentang seorang laki-laki yang datang dari ujung kota dengan bergegas untuk memberikan peringatan kepada kaumnya agar mereka mengikuti para rasul. Laki-laki ini kemungkinan besar adalah orang yang saleh dan memiliki iman yang kuat.
Makna Ayat
Ayat ini mengandung beberapa makna:
  • Pentingnya Mengikuti Petunjuk: Ayat ini menekankan pentingnya mengikuti petunjuk yang dibawa oleh para rasul. Ini menunjukkan bahwa petunjuk tersebut adalah jalan yang benar untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
  • Peran Aktif dalam Berdakwah: Laki-laki ini datang dengan bergegas untuk memberikan peringatan kepada kaumnya. Ini menunjukkan peran aktif yang dapat dimainkan oleh individu dalam berdakwah dan mengajak orang lain kepada kebaikan.
  • Kesungguhan dalam Berdakwah: Kedatangan laki-laki ini dengan bergegas menunjukkan kesungguhan dan kepedulian yang tinggi terhadap kaumnya. Ini menjadi contoh bagi umat Islam untuk bersungguh-sungguh dalam berdakwah dan mengajak orang lain kepada kebaikan

Implikasi Ayat :

  • Mengikuti Petunjuk Ilahi: Ayat ini mengingatkan pentingnya mengikuti petunjuk ilahi yang dibawa oleh para rasul. Ini berarti menjalankan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh dan mengikuti contoh yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW.
  • Berdakwah dengan Cara yang Baik: Laki-laki ini datang dengan bergegas dan memberikan peringatan dengan cara yang baik. Ini menunjukkan bahwa berdakwah harus dilakukan dengan cara yang bijak dan penuh kasih sayang.
  • Kepedulian terhadap Sesama: Ayat ini juga menunjukkan kepedulian laki-laki tersebut terhadap kaumnya. Ini mengingatkan kita akan pentingnya memiliki kepedulian terhadap sesama dan berupaya untuk membantu mereka mencapai kebaikan.
Refleksi dalam Kehidupan Sehari-hari
  • Mengikuti Ajaran Islam: Berusaha untuk mengikuti ajaran Islam dengan sungguh-sungguh dan menjalankan perintah Allah SWT.
  • Berdakwah dengan Bijak: Berdakwah dan mengajak orang lain kepada kebaikan dengan cara yang bijak dan penuh kasih sayang.
  • Memiliki Kepedulian terhadap Sesama: Menunjukkan kepedulian terhadap sesama dan berupaya untuk membantu mereka mencapai kebaikan.
Dengan memahami dan mengamalkan ayat ini, diharapkan seseorang dapat lebih aktif dalam berdakwah, memiliki kepedulian terhadap sesama, dan mengikuti petunjuk ilahi dengan sungguh-sungguh.

Sunnah Nabi yang Sering Dilupakan

Sebagai umat Islam, kita seharusnya mengikuti jejak langkah Nabi Muhammad SAW dalam setiap aspek kehidupan. Namun, banyak di antara kita yang telah melupakan sunnah-sunnah Nabi yang sebenarnya sangat mudah untuk diamalkan. Berikut beberapa sunnah Nabi yang sering dilupakan:
Sunnah Sehari-Hari
  • Bersugi: Membersihkan mulut dengan bersugi dapat membantu menjaga kesehatan gigi dan mendapatkan ridho Allah.
  • Bercelak: Menggunakan celak dapat memperjelaskan penglihatan dan menumbuhkan bulu mata.
  • Mendahulukan yang Kanan: Mendahulukan yang kanan dalam segala hal seperti memakai pakaian, kasut, dan lain-lain.
  • Menjilat Jari: Menjilat jari setelah makan dapat membantu membersihkan tangan dan mendapatkan berkah.
  • Berdoa: Berdoa kepada Allah dalam setiap kesempatan, seperti sebelum makan, minum, dan lain-lain

Sunnah dalam Beribadah
  • Sholat Sunnah Qabliyah Shubuh: Sholat sunnah sebelum shubuh dapat membantu meningkatkan iman dan mendapatkan pahala.
  • Sholat Dhuha: Sholat dhuha dapat membantu meningkatkan iman dan mendapatkan rezeki.
  • Tahajud: Sholat tahajud dapat membantu meningkatkan iman dan mendapatkan pahala.
  • Membaca Al-Quran: Membaca Al-Quran dapat membantu meningkatkan iman dan mendapatkan pahala ³ ¹.
Sunnah dalam Bermasyarakat
  • Memberi Salam: Memberi salam kepada orang lain dapat membantu meningkatkan ukhuwah dan mendapatkan pahala.
  • Menziarahi Orang Sakit: Menziarahi orang sakit dapat membantu meningkatkan ukhuwah dan mendapatkan pahala.
  • Memberi Makan: Memberi makan kepada orang lain dapat membantu meningkatkan ukhuwah dan mendapatkan pahala.
  • Memaafkan Kesalahan Orang Lain: Memaafkan kesalahan orang lain dapat membantu meningkatkan iman dan mendapatkan pahala ¹.
Dengan mengamalkan sunnah-sunnah Nabi, kita dapat meningkatkan iman dan mendapatkan pahala. Selain itu, mengamalkan sunnah juga dapat membantu kita menjadi lebih baik dan mendapatkan ridho Allah.

Surat Yasin: Pintu Gerbang Spiritual dan Petunjuk Ilahi

Surat Yasin adalah salah satu surat dalam Al-Quran yang memiliki kedudukan istimewa di hati umat Islam. Surat ini terdiri dari 83 ayat dan termasuk dalam kategori surat Makkiyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekah sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Ayat-ayat pembuka surat ini, yaitu ayat 1-5, menjadi fondasi penting untuk memahami pesan spiritual dan petunjuk ilahi yang terkandung di dalamnya.
Ayat 1-5: Pengantar Spiritual dan Pengakuan Ilahi
Ayat-1: “Yaa siin” (يس). Ayat ini dimulai dengan huruf-huruf abjad yang dikenal sebagai “huruf muqatta’at”, yang memiliki makna yang dalam dan khusus yang hanya diketahui oleh Allah SWT. Huruf-huruf ini sering kali menjadi tanda awal dari pesan penting dalam Al-Quran.
Ayat 2: “Demi Al-Quran yang penuh hikmah” (وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ). Ayat ini menekankan pentingnya Al-Quran sebagai sumber petunjuk dan hikmah. Allah SWT bersumpah dengan Al-Quran, menunjukkan betapa berharganya kitab suci ini sebagai pedoman hidup bagi manusia.
Ayat 3: “Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul” (إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ). Ayat ini berbicara langsung kepada Nabi Muhammad SAW, menguatkan posisinya sebagai salah satu dari rasul-rasul Allah yang dipilih untuk menyampaikan pesan ilahi kepada umat manusia.
Ayat 4: “Di atas jalan yang lurus” (عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ). Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW dan risalah yang dibawanya berada di atas jalan yang lurus, yaitu jalan yang telah digariskan oleh Allah SWT untuk diikuti oleh manusia.
Ayat 5: “(Al-Quran ini) merupakan wahyu dari Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang” (تَنزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ). Ayat ini menegaskan bahwa Al-Quran adalah wahyu dari Allah Yang Mahaperkasa, yang memiliki kekuasaan absolut, dan Maha Penyayang, yang penuh kasih sayang terhadap makhluk-Nya.
Tadabbur dan Refleksi
Dalam tadabbur ayat-ayat ini, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting:
  • Pengakuan akan kebesaran Al-Quran: Ayat-ayat ini menekankan pentingnya Al-Quran sebagai sumber petunjuk dan hikmah. Kita diingatkan untuk selalu merujuk kepada Al-Quran dalam setiap aspek kehidupan kita.
  • Kedudukan Nabi Muhammad SAW: Ayat-ayat ini menguatkan posisi Nabi Muhammad SAW sebagai rasul Allah yang membawa pesan ilahi kepada umat manusia. Kita dapat meneladani sifat-sifat beliau dalam menyampaikan risalah dan dalam berinteraksi dengan umat.
  • Jalan yang lurus: Ayat-ayat ini menekankan pentingnya mengikuti jalan yang lurus, yaitu jalan yang telah digariskan oleh Allah SWT. Kita diingatkan untuk selalu berusaha mengikuti petunjuk ilahi dalam setiap langkah hidup kita.
  • Sifat Allah SWT: Ayat-ayat ini menggambarkan Allah SWT sebagai Yang Mahaperkasa dan Maha Penyayang. Kita dapat mengambil penghiburan dan kekuatan dari sifat-sifat Allah ini, serta berusaha untuk meneladani sifat kasih sayang-Nya dalam interaksi kita dengan sesama.
Dengan memahami dan mentadabburi ayat-ayat pembuka Surat Yasin ini, kita dapat memperdalam pemahaman kita tentang pesan spiritual dan petunjuk ilahi yang terkandung dalam Al-Quran. Semoga kita dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat ini dan meningkatkan kualitas iman dan takwa kita kepada Allah SWT.

Saling Membantu

الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

ADVERTISEMENT
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Pada hari yang mulia ini, khatib menyeru kepada jamaah sekalian untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan semaksimal mungkin, takwa dalam artian menjauhi segala larangan yang ditetapkan Allah subhânahu wa ta’âla dan menjalankan perintah-Nya.

Karena dengan ketakwaan, setiap persoalan hidup yang kita alami akan ada jalan keluarnya dan akan ada pula rezeki yang datang kepada kita tanpa disangka-sangka.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Ketika awal kita ada di dunia ini, kita membutuhkan seseorang yang menjadi perantara kelahiran, yaitu ibu. Saat itu, kita membutuhkan seorang bidan yang membantu mengeluarkan kita dari perut ibu.

Dari kecil hingga tumbuh dewasa kita membutuhkan orang tua, ketika kesulitan dan memiliki hajat, kita membutuhkan tetangga dan warga sekitar, ketika punya problem kehidupan kita juga membutuhkan seorang pendengar, hingga ketika ajal menjemput, kita pun membutuhkan orang yang menguburkan jasad kita.

Dari sini, kita dapat memahami bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian, kita semua saling membutuhkan satu sama lain. Oleh karena itu, pesan yang ditanamkan sejak kecil hingga dewasa adalah jangan bosan-bosan menolong orang lain yang membutuhkan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Islam adalah agama yang sangat menganjurkan umatnya untuk saling tolong menolong dan merekatkan tali persaudaraan. Tolong menolong di sini tidak terikat oleh apa pun. Bantulah dengan tulus siapapun orangnya, entah dia kaya atau miskin, berpendidikan tinggi atau tidak mengenyam pendidikan sama sekali, bahkan muslim atau non-muslim.

Selama itu dalam ranah sosial dan kebaikan, maka tidak ada salahnya kita membantu mereka, karena bagaimana pun mereka adalah saudara dalam kemanusiaan. Kecuali, jika bantu membantu itu hal kejahatan dan keburukan, maka Islam melarang hal ini. Allah menegaskan dalam Al-Quran surah Al-Maidah ayat 2:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Menolong orang lain, khususnya mereka yang sedang kesulitan sungguh memiliki banyak manfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang yang kita tolong, bahkan kondisi masyarakat pun akan mendapatkan manfaat dari sikap dan perbuatan baik ini.

Dengan menolong orang muslim yang sedang membutuhkan pertolongan, maka kita telah mencerminkan pesan persaudaraan yang ditamsilkan oleh Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim:

مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَـى مُـعْسِرٍ، يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَـرَ مُسْلِمًـا، سَتَـرَهُ اللهُ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللهُ فِـي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Siapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Siapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan, maka Allah memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Siapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allâh akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.”

Dalam hadits yang disebutkan tadi, mungkin kita bertanya-tanya, bagaimana mungkin kita menolong orang zalim padahal Allah telah melarang bantu membantu dalam hal keburukan. Hal ini pun pernah ditanyakan juga para sahabat, Rasulullah pun menjawab:

تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ

“Pegang tangannya (tahan ia dari perbuatan zalim).”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Dari hadits-hadits di atas, kiranya dapat menjadi pelajaran bagi kita semua agar bermurah hati menolong sesama Muslim karena mereka adalah saudara kita. Pun tanpa menafikan kita juga harus menolong siapa saja orang-orang di sekitar kita yang sedang dalam kesulitan. KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur berpesan:

“Tidak penting apa agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang. Orang tidak akan pernah tanya apa agamamu,”

بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أنْ لَآ إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

اللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر

Copyright © 2026 BantaengPos.com